Aneh, Banyak Muslim Dukung Invasi AS ke Libya untuk Isap Darah Umat
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Inna lillahi wa inna ilaihi
raji'un. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Allahumma inna
nas'alukal 'afiyah fid dunya wal akhirah. Amin ya Rahiim.
Sangat sulit dipahami, bagaimana mungkin banyak Muslim hari ini
mendukung invasi Amerika Cs ke Libya. Baik itu ulama, ustadz,
pengamat, pemerhati, jurnalis, dan sebagainya. Bagaimana mungkin akal
kita bisa membenarkan invasi ke Libya itu? Sesempit itukah wawasan
kita? Sependek itukah nalar sejarah kita? Tidakkah kita mau belajar
dari penderitaan bangsa Irak dan Afghanistan, pasca invasi Amerika Cs
tahun 2003 dan 2001 lalu?
Alasan yang dipakai para AGRESSOR untuk menghujani Libya dengan
rudal-rudal adalah: "Demi menyelamatkan warga Benghazi yang anti
Qaddafi dari serangan brutalnya yang telah menewaskan manusia sampai
6000 orang lebih." Dengan alasan ini lalu kita membenarkan serangan
udara negara-negara syaitan seperti Amerika, Inggris, Perancis,
Italia, Kanada, dll.
Apakah Kalian Mendukung Mereka Menghisap Darah Kaum Muslimin???
Mula-mula harus diklarifikasi dulu, benarkah korban yang jatuh dari
pihak demonstran anti Qaddafi sampai 6000 jiwa lebih? Laporan ini
berdasarkan pantauan TV Aljazeera, lembaga HAM Libya, dan lembaga HAM
internasional. Sedangkan, korban menurut versi Pemerintah Libya
sendiri tidak pernah dilihat. Setidaknya, kita harus melihat laporan
kalangan Islam independen, yang tidak terlibat dalam pertikaian
politik di Libya. Kalau Aljazeera kan jelas-jelas sudah terlibat
dalam revolusi dunia Arab saat ini, malah TV ini merupakan PROVOKATOR
paling sengit.
Cobalah berpikir logis. Selama terjadi bentrok di Libya, pernahkah
kita melihat mayat-mayat bergelimpangan dalam jumlah besar? Pernahkah
kita lihat ke rumah-rumah sakit, di sana ada ribuan korban jiwa?
Pernahkah kita lihat ada pekuburan-pekuburan massal untuk mengubur
jenazah yang ribuan orang itu? Pernahkah kita lihat ada gambar-gambar
mayat bertumpuk-tumpuk di Libya saat ini? Kalau ada semua itu, saya
yakin rakyat Libya yang semula pro Qaddafi, mereka akan berbalik
menyerang Qaddafi. Sebab fitrahnya manusia, tidak suka melihat
kekejaman.
Bukannya kita mendukung kekejaman Qaddafi. Tidak sama sekali. Tetapi
jangan sampai kita zalim dengan menuduhkan sesuatu yang memang tidak
ada realitasnya. Kekejaman Qaddafi kepada demonstran ya jelas harus
dihentikan. Bukan seperti itu cara yang seharusnya dilakukan. Baik
Qaddafi maupun pasukan NATO, haram berbuat kezaliman.
Sekarang masalahnya, bagaimana bisa kita menolak kekejaman Qaddafi,
sementara kita membenarkan kekejaman serangan NATO terhadap
target-target sasaran sipil di Libya? Apakah kalau yang menyerang itu
Qaddafi, ia dilarang; tetapi kalau NATO, ia dibenarkan? Itukah yang
namanya keadilan?
Seandainya NATO benar-benar adil –sedangkan syaitan tak ada yang
bersikap adil– seharusnya mereka segera menghajar Israel dengan
serangan ribuan ton rudal. Karena kita tahu betapa kejamnya Israel
saat menyerang warga Ghaza pada 2008 lalu. Begitu pula betapa kejinya
bangsa itu saat merampok kapal Mavi Marmara dan membunuhi puluhan
manusia di dalamnya. Mengapa kita tidak meminta NATO menghajar Israel
dengan segala kekejiannya itu?
Apakah seorang Muslim pantas meminta orang kafir membunuhi sesama
Muslim (warga Libya), sementara dia tidak pernah meminta orang kafir
itu membalas kekejaman Yahudi Israel? Siapapun yang merestui
pembunuhan kaum Muslimin di Libya saat ini, dengan meminta bantuan
tangan-tangan keji kaum kuffar, mereka bisa jatuh dalam kekufuran.
Berhati-hatilah wahai kaum Muslimin.
Mungkin Anda akan membantah, "Tapi kan Qaddafi sudah kejam, sudah
biadab, sudah membunuhi ribuan orang Muslim? Dia harus dihentikan
bagaimanapun caranya, berapapun harganya?"
Demi Allah, kekejaman Qaddafi –jika benar demikian adanya– tidak bisa
dibenarkan dalam Syariat Islam. Dalam menyikapi pertikaian politik
antar sesama Muslim (Pemerintah Qaddafi dan demonstran anti Qaddafi)
seharusnya ditempuh jalan damai, jalan perundingan, dan kompromi.
Bukan saling membunuh. Nabi Saw mengatakan, kalau dua orang Muslim
berhadapan, keduanya sama-sama menghunus pedang, lalu salah satu
darinya mati; maka keduanya masuk neraka. Yang terbunuh pun masuk
neraka, sebab dia sudah ada niat membunuh kawannya.
Cara terbaik mengatasi pertikaian antar sesama Muslim adalah JALAN
DAMAI, bukan saling serang dan membunuh. Dan lebih keji lagi, kalau
untuk urusan saling membunuh itu, kaum Muslimin meminta bantuan orang
kafir –laknat Allah atas mereka–. Wong, saling serang antar Muslim
saja haram, apalagi meminta bantuan kuffar untuk menyerang Ummat Islam
lainnya. Ini adalah perbuatan terkutuk yang bisa mengeluarkan
pelakunya dari Islam.
Andaikan Qaddafi telah berbuat kejam dengan membunuhi ribuan Muslim.
Tetap saja solusinya bukan dengan mendatangkan kekuatan kuffar untuk
menghancurkan seluruh negara Libya dan rakyatnya. Jangan sampai, hanya
demi mengusir tikus yang masuk rumah, kita menyewa meriam milik orang
kuffar. Nanti, bukan hanya tikus itu yang terbakar, tetapi seluruh
rumah akan menjadi hancur berkeping-keping.
Cobalah ingat bagaimana latar-belakang perang Afghanistan dan perang
Irak! Alasan perang Afghan, adalah untuk menghajar Usamah bin Ladin
dan Al Qa'idah. Tetapi yang dihancurkan oleh NATO adalah seluruh
negara Afghan dan rakyatnya, sementara Al Qa'idah sampai sekarang
masih terus eksis. Alasan perang Irak, adalah untuk menghajar Saddam
yang memiliki senjata pemusnah massal. Ternyata kemudian terbukti,
alasan itu bohong belaka. Tetapi bangsa Irak sudah remuk-redam dihajar
ribuan ton rudal NATO. Bahkan kini Irak lebih didominasi oleh sekte
Syi'ah Rafidhah. Wal 'iyadzubillah.
Kalau masalah kekejaman, Qaddafi bukan satu-satunya penguasa kejam.
Coba hitung berapa ribu manusia yang telah tewas di Afghanistan dan
Irak! Sebagian menyebut sudah jutaan. Lalu hitung berapa korban Muslim
di Palestina akibat kekejaman Israel! Lalu hitung kekejaman di
Somalia, di Rwanda, di Chechnya, di Bosnia, bahkan di Ambon, Maluku,
Sampit, Sambas, dan lainnya. Ada berapa ribu manusia yang "disate" di
tempat-tempat itu? Lalu apakah NATO segera bergerak cepat untuk
menghancurkan pihak-pihak pembantai di tempat-tempat itu?
Kita masih ingat bagaimana kekejaman regim militer di Aljazair ketika
merampas kemenangan FIS pada tahun 1991-1992 lalu. Ketika itu regim
militer tersebut membunuh 50.000 lebih aktivis Islam, atas dukungan
negara syaitan Prancis. Apa kita lupa dengan fakta sejarah itu? Lalu
di mana pembelaan NATO terhadap FIS? Padahal FIS memenangkan pemilu
secara demokratis? Mengapa penguasa militer Aljazair tidak dihajar
oleh NATO dan negara sampah seperti Amerika, Inggris, Kanada, dan
sejenisnya? Di mana pembelaan mereka terhadap nasib 50.000 aktivis
Islam di Aljazair?
Dan yang paling konyol lagi, ialah alasan: "Menciptakan demokrasi di
Libya." Ini adalah alasan yang paling TOLOL yang bisa dikemukakan.
Demi melaksanakan demokrasi, kita menghalalkan invasi negara-negara
kuffar –semoga Allah mengutuk mereka dan menghancurkan ekonomi
mereka–.
Bagaimana mungkin negara-negara itu ingin memaksakan demokrasi dengan
bahasa "rudal dan bom"? Ini adalah KEMUNAFIKAN yang sangat telanjang.
Mungkinkah bisa terjadi demokrasi dengan bahasa rudal? Sangat sulit
dimengerti. Apakah artinya demokrasi jika menghalalkan agresi, invasi,
dan serangan rudal-rudal? Disebut demokrasi karena disana tidak
digunakan cara-cara kekerasan. Kalau memakai cara kekerasan, yang
terjadi bukan demokrasi, tetapi demokrasi berdarah. Lihatlah di
Afghanistan, disana Amerika berusaha mendemokrasikan bangsa Afghan
tetapi dengan memakai rudal. Akibatnya, rakyat Afghan merespon ajakan
Amerika itu dengan serangan-serangan bom manusia, sampai saat ini.
Demokrasi darah, ya hasilnya akan dibayar dengan darah pula.
Satu hal yang harus disadari. Andaikan nanti Qaddafi berhasil
dihancurkan oleh pasukan NATO, lalu diganti tokoh lain yang lebih
demokratis. Pertanyaannya, apakah setelah itu NATO akan pulang ke
rumah masing-masing secara damai dan penuh ikhlas? Jangan bodoh kawan!
Mereka sudah keluar uang banyak untuk menjatuhkan Qaddafi. Mereka
pasti akan meminta BAYARAN atas uang yang sudah mereka keluarkan untuk
aksi militer itu. Sebagai catatan, harga 1 unit rudal Tomahawk saja
bisa mencapai Rp. 5 miliar sampai Rp. 9 miliar.
Semua biaya-biaya itu pasti akan dimintakan agar diganti oleh negara
Libya. Kalau bukan dibayar secara cash, bisa dikonversi dalam bentuk
hutang negara. Atau dialihkan dalam bentuk penguasaan ladang-ladang
minyak di Libya. Mana ada perang yang cuma-cuma, kawan? Jangan bodoh
dan terlalu lugu. Negara-negara agressor seringkali memanfaatkan
perang semacam itu untuk mendapat penghasilan ekonomi besar. Itulah
yang disebut sebagai "jualan amunisi berkuah darah".
Sehebat apapun konflik di tengah kaum Muslimin, solusinya bukan dengan
meminta bantuan pasukan kuffar yang terkenal haus darah dan zhalim
itu. Konflik di antara kaum Muslimin seharusnya diselesaikan dengan
ISHLAH. Al Qur'an mengajarkan agar kita menempuh jalan damai ketika
menyelesaikan sengketa suami-isteri. Bila konflik sudah serius, kita
bisa mengambil, "Hakaman min ahlihi wa hakaman min ahliha" (seorang
penengah dari pihak suami, dan penengah dari pihak isteri). Cara
demikian diutamakan, karena Islam menganut prinsip, "Was shulhu khair"
(perdamaian atau ishlah itu lebih baik).
Kalau untuk konflik rumah-tangga diutamakan cara ishlah, apalagi
konflik yang menyangkut darah, nyawa, harta, dan kehidupan kaum
Muslimin dalam skala luas? Lalu dimana akal kita ketika kini
menyetujui invasi Amerika Cs ke Libya? Itukah cara Islami yang
diajarkan oleh Kitabullah dan As Sunnah? Sangat jauh, sangat jauh;
seperti jauhnya langit dan bumi, serta jauhnya Barat dan Timur.
"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali
dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian,
niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat)
memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah
memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah
kembali (mu)" (TQS Ali Imran: 28).
Cukuplah ayat di atas sebagai peringatan bagi kita semua. [Abinya Syakir]
dikutip dari www.voa-islam.com
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Inna lillahi wa inna ilaihi
raji'un. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Allahumma inna
nas'alukal 'afiyah fid dunya wal akhirah. Amin ya Rahiim.
Sangat sulit dipahami, bagaimana mungkin banyak Muslim hari ini
mendukung invasi Amerika Cs ke Libya. Baik itu ulama, ustadz,
pengamat, pemerhati, jurnalis, dan sebagainya. Bagaimana mungkin akal
kita bisa membenarkan invasi ke Libya itu? Sesempit itukah wawasan
kita? Sependek itukah nalar sejarah kita? Tidakkah kita mau belajar
dari penderitaan bangsa Irak dan Afghanistan, pasca invasi Amerika Cs
tahun 2003 dan 2001 lalu?
Alasan yang dipakai para AGRESSOR untuk menghujani Libya dengan
rudal-rudal adalah: "Demi menyelamatkan warga Benghazi yang anti
Qaddafi dari serangan brutalnya yang telah menewaskan manusia sampai
6000 orang lebih." Dengan alasan ini lalu kita membenarkan serangan
udara negara-negara syaitan seperti Amerika, Inggris, Perancis,
Italia, Kanada, dll.
Apakah Kalian Mendukung Mereka Menghisap Darah Kaum Muslimin???
Mula-mula harus diklarifikasi dulu, benarkah korban yang jatuh dari
pihak demonstran anti Qaddafi sampai 6000 jiwa lebih? Laporan ini
berdasarkan pantauan TV Aljazeera, lembaga HAM Libya, dan lembaga HAM
internasional. Sedangkan, korban menurut versi Pemerintah Libya
sendiri tidak pernah dilihat. Setidaknya, kita harus melihat laporan
kalangan Islam independen, yang tidak terlibat dalam pertikaian
politik di Libya. Kalau Aljazeera kan jelas-jelas sudah terlibat
dalam revolusi dunia Arab saat ini, malah TV ini merupakan PROVOKATOR
paling sengit.
Cobalah berpikir logis. Selama terjadi bentrok di Libya, pernahkah
kita melihat mayat-mayat bergelimpangan dalam jumlah besar? Pernahkah
kita lihat ke rumah-rumah sakit, di sana ada ribuan korban jiwa?
Pernahkah kita lihat ada pekuburan-pekuburan massal untuk mengubur
jenazah yang ribuan orang itu? Pernahkah kita lihat ada gambar-gambar
mayat bertumpuk-tumpuk di Libya saat ini? Kalau ada semua itu, saya
yakin rakyat Libya yang semula pro Qaddafi, mereka akan berbalik
menyerang Qaddafi. Sebab fitrahnya manusia, tidak suka melihat
kekejaman.
Bukannya kita mendukung kekejaman Qaddafi. Tidak sama sekali. Tetapi
jangan sampai kita zalim dengan menuduhkan sesuatu yang memang tidak
ada realitasnya. Kekejaman Qaddafi kepada demonstran ya jelas harus
dihentikan. Bukan seperti itu cara yang seharusnya dilakukan. Baik
Qaddafi maupun pasukan NATO, haram berbuat kezaliman.
Sekarang masalahnya, bagaimana bisa kita menolak kekejaman Qaddafi,
sementara kita membenarkan kekejaman serangan NATO terhadap
target-target sasaran sipil di Libya? Apakah kalau yang menyerang itu
Qaddafi, ia dilarang; tetapi kalau NATO, ia dibenarkan? Itukah yang
namanya keadilan?
Seandainya NATO benar-benar adil –sedangkan syaitan tak ada yang
bersikap adil– seharusnya mereka segera menghajar Israel dengan
serangan ribuan ton rudal. Karena kita tahu betapa kejamnya Israel
saat menyerang warga Ghaza pada 2008 lalu. Begitu pula betapa kejinya
bangsa itu saat merampok kapal Mavi Marmara dan membunuhi puluhan
manusia di dalamnya. Mengapa kita tidak meminta NATO menghajar Israel
dengan segala kekejiannya itu?
Apakah seorang Muslim pantas meminta orang kafir membunuhi sesama
Muslim (warga Libya), sementara dia tidak pernah meminta orang kafir
itu membalas kekejaman Yahudi Israel? Siapapun yang merestui
pembunuhan kaum Muslimin di Libya saat ini, dengan meminta bantuan
tangan-tangan keji kaum kuffar, mereka bisa jatuh dalam kekufuran.
Berhati-hatilah wahai kaum Muslimin.
Mungkin Anda akan membantah, "Tapi kan Qaddafi sudah kejam, sudah
biadab, sudah membunuhi ribuan orang Muslim? Dia harus dihentikan
bagaimanapun caranya, berapapun harganya?"
Demi Allah, kekejaman Qaddafi –jika benar demikian adanya– tidak bisa
dibenarkan dalam Syariat Islam. Dalam menyikapi pertikaian politik
antar sesama Muslim (Pemerintah Qaddafi dan demonstran anti Qaddafi)
seharusnya ditempuh jalan damai, jalan perundingan, dan kompromi.
Bukan saling membunuh. Nabi Saw mengatakan, kalau dua orang Muslim
berhadapan, keduanya sama-sama menghunus pedang, lalu salah satu
darinya mati; maka keduanya masuk neraka. Yang terbunuh pun masuk
neraka, sebab dia sudah ada niat membunuh kawannya.
Cara terbaik mengatasi pertikaian antar sesama Muslim adalah JALAN
DAMAI, bukan saling serang dan membunuh. Dan lebih keji lagi, kalau
untuk urusan saling membunuh itu, kaum Muslimin meminta bantuan orang
kafir –laknat Allah atas mereka–. Wong, saling serang antar Muslim
saja haram, apalagi meminta bantuan kuffar untuk menyerang Ummat Islam
lainnya. Ini adalah perbuatan terkutuk yang bisa mengeluarkan
pelakunya dari Islam.
Andaikan Qaddafi telah berbuat kejam dengan membunuhi ribuan Muslim.
Tetap saja solusinya bukan dengan mendatangkan kekuatan kuffar untuk
menghancurkan seluruh negara Libya dan rakyatnya. Jangan sampai, hanya
demi mengusir tikus yang masuk rumah, kita menyewa meriam milik orang
kuffar. Nanti, bukan hanya tikus itu yang terbakar, tetapi seluruh
rumah akan menjadi hancur berkeping-keping.
Cobalah ingat bagaimana latar-belakang perang Afghanistan dan perang
Irak! Alasan perang Afghan, adalah untuk menghajar Usamah bin Ladin
dan Al Qa'idah. Tetapi yang dihancurkan oleh NATO adalah seluruh
negara Afghan dan rakyatnya, sementara Al Qa'idah sampai sekarang
masih terus eksis. Alasan perang Irak, adalah untuk menghajar Saddam
yang memiliki senjata pemusnah massal. Ternyata kemudian terbukti,
alasan itu bohong belaka. Tetapi bangsa Irak sudah remuk-redam dihajar
ribuan ton rudal NATO. Bahkan kini Irak lebih didominasi oleh sekte
Syi'ah Rafidhah. Wal 'iyadzubillah.
Kalau masalah kekejaman, Qaddafi bukan satu-satunya penguasa kejam.
Coba hitung berapa ribu manusia yang telah tewas di Afghanistan dan
Irak! Sebagian menyebut sudah jutaan. Lalu hitung berapa korban Muslim
di Palestina akibat kekejaman Israel! Lalu hitung kekejaman di
Somalia, di Rwanda, di Chechnya, di Bosnia, bahkan di Ambon, Maluku,
Sampit, Sambas, dan lainnya. Ada berapa ribu manusia yang "disate" di
tempat-tempat itu? Lalu apakah NATO segera bergerak cepat untuk
menghancurkan pihak-pihak pembantai di tempat-tempat itu?
Kita masih ingat bagaimana kekejaman regim militer di Aljazair ketika
merampas kemenangan FIS pada tahun 1991-1992 lalu. Ketika itu regim
militer tersebut membunuh 50.000 lebih aktivis Islam, atas dukungan
negara syaitan Prancis. Apa kita lupa dengan fakta sejarah itu? Lalu
di mana pembelaan NATO terhadap FIS? Padahal FIS memenangkan pemilu
secara demokratis? Mengapa penguasa militer Aljazair tidak dihajar
oleh NATO dan negara sampah seperti Amerika, Inggris, Kanada, dan
sejenisnya? Di mana pembelaan mereka terhadap nasib 50.000 aktivis
Islam di Aljazair?
Dan yang paling konyol lagi, ialah alasan: "Menciptakan demokrasi di
Libya." Ini adalah alasan yang paling TOLOL yang bisa dikemukakan.
Demi melaksanakan demokrasi, kita menghalalkan invasi negara-negara
kuffar –semoga Allah mengutuk mereka dan menghancurkan ekonomi
mereka–.
Bagaimana mungkin negara-negara itu ingin memaksakan demokrasi dengan
bahasa "rudal dan bom"? Ini adalah KEMUNAFIKAN yang sangat telanjang.
Mungkinkah bisa terjadi demokrasi dengan bahasa rudal? Sangat sulit
dimengerti. Apakah artinya demokrasi jika menghalalkan agresi, invasi,
dan serangan rudal-rudal? Disebut demokrasi karena disana tidak
digunakan cara-cara kekerasan. Kalau memakai cara kekerasan, yang
terjadi bukan demokrasi, tetapi demokrasi berdarah. Lihatlah di
Afghanistan, disana Amerika berusaha mendemokrasikan bangsa Afghan
tetapi dengan memakai rudal. Akibatnya, rakyat Afghan merespon ajakan
Amerika itu dengan serangan-serangan bom manusia, sampai saat ini.
Demokrasi darah, ya hasilnya akan dibayar dengan darah pula.
Satu hal yang harus disadari. Andaikan nanti Qaddafi berhasil
dihancurkan oleh pasukan NATO, lalu diganti tokoh lain yang lebih
demokratis. Pertanyaannya, apakah setelah itu NATO akan pulang ke
rumah masing-masing secara damai dan penuh ikhlas? Jangan bodoh kawan!
Mereka sudah keluar uang banyak untuk menjatuhkan Qaddafi. Mereka
pasti akan meminta BAYARAN atas uang yang sudah mereka keluarkan untuk
aksi militer itu. Sebagai catatan, harga 1 unit rudal Tomahawk saja
bisa mencapai Rp. 5 miliar sampai Rp. 9 miliar.
Semua biaya-biaya itu pasti akan dimintakan agar diganti oleh negara
Libya. Kalau bukan dibayar secara cash, bisa dikonversi dalam bentuk
hutang negara. Atau dialihkan dalam bentuk penguasaan ladang-ladang
minyak di Libya. Mana ada perang yang cuma-cuma, kawan? Jangan bodoh
dan terlalu lugu. Negara-negara agressor seringkali memanfaatkan
perang semacam itu untuk mendapat penghasilan ekonomi besar. Itulah
yang disebut sebagai "jualan amunisi berkuah darah".
Sehebat apapun konflik di tengah kaum Muslimin, solusinya bukan dengan
meminta bantuan pasukan kuffar yang terkenal haus darah dan zhalim
itu. Konflik di antara kaum Muslimin seharusnya diselesaikan dengan
ISHLAH. Al Qur'an mengajarkan agar kita menempuh jalan damai ketika
menyelesaikan sengketa suami-isteri. Bila konflik sudah serius, kita
bisa mengambil, "Hakaman min ahlihi wa hakaman min ahliha" (seorang
penengah dari pihak suami, dan penengah dari pihak isteri). Cara
demikian diutamakan, karena Islam menganut prinsip, "Was shulhu khair"
(perdamaian atau ishlah itu lebih baik).
Kalau untuk konflik rumah-tangga diutamakan cara ishlah, apalagi
konflik yang menyangkut darah, nyawa, harta, dan kehidupan kaum
Muslimin dalam skala luas? Lalu dimana akal kita ketika kini
menyetujui invasi Amerika Cs ke Libya? Itukah cara Islami yang
diajarkan oleh Kitabullah dan As Sunnah? Sangat jauh, sangat jauh;
seperti jauhnya langit dan bumi, serta jauhnya Barat dan Timur.
"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali
dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian,
niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat)
memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah
memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah
kembali (mu)" (TQS Ali Imran: 28).
Cukuplah ayat di atas sebagai peringatan bagi kita semua. [Abinya Syakir]
dikutip dari www.voa-islam.com
